Rasulullah Teladan Segala Hal Perjalanan hidup Rasulullah


Oleh : Muhammad scilta Riska
Merupakan ibrah yang luar biasa. Tidak sebatas mengagumi tapi bagaimana rangkaian hidupnya kita teladani. Mengkonversi gaya hidup kita sesuai sunnah Nabi. Peradaban apa yang akan kita harapkan jika rujukannya bukan manusia yang teladan?

Kondisi masyarakat sebelum diutusnya Rasulullah erat kaitannya dengan jahiliyah. Perang antar suku, kondisi geografis turut membentuk watak kepribadian tak beradab. Belum lagi krisis yang melanda. Kezaliman yang menyebar. Krisis aqidah, di sekitaran ka'bah ada puluhan berhala, menyimpang dari ajaran Nabi lbrahim.

Kelahiran Nabi langsung disambut dengan serangan pasukan tentara bergajah. Sewaktu itu tidak ada yang memahami hubungan peristiwa bersejarah ini. Hingga 40 tahun berikutnya ketika diangkat menjadi Nabi menunjukkan pertanda pintu lahirnya peradaban baru. Peradaban umat yang
terbaik, yang akan memimpin dunia.

Sebaik-baik zaman dalam sejarah peradaban manusia. "Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya"
(HR. Bukhari dan Muslim). 

40 tahun berikutnya Islam telah mengusai dua pertiga dunia. Dalam kurun waktu yang cukup singkat Islam menyebar berbagai penjuru negeri. Jangan pernah berprasangka buruk terhadap ujian pandemi menimpa. Bisa jadi sebab lahirnya peradaban baru. Peradaban yang akan menyebarkan keadilan, menegakkan kebaikan dan mengokohkan
kebenaran.

lbarat musim kering yang berlarut melanda jazirah Arab, adalah kelahiran Nabi hujan
rahmat Allah bagi semesta alam. Ujung malam yang gelap akan terbitnya fajar pertanda lahirnya peradaban baru.

Sirah Nabawiyah seharusnya menjadi inspirasi kehidupan kita. Pegangan menghadapi segala kemungkinan ujian yang akan terjadi. Untuk mendapatkan pemahaman yang utuh, setidaknya ada tiga kata yang dapat menggambarkan, Manusia, Negara dan Peradaban.

Membangun Manusia Hal yang pertamakali Rasulullah tanamkan
adalah membangun manusia jiwa beserta raganya. Sebabnya wahyu yang turun awal kali perintah membaca. Membaca ulang kehidupan secara keseluruhan. Dimulai dari perubahan dalam din-din manusia sendiri. Mengubah paradigma dan menjadikan islam sebagai minhajul hayat

Sebab apa yang akan manusia lakukan pertamakali diproses dalam alam pikirannya. Persoalan mengukur suatu permasalahan besar kecilnya tergantung persepsi kita. Kerangka bertikir yang diyakini. Berfikir sebagai pekerjaan dasar manusia. Beriman dan berfikir satu paket.
Al-Qur'an dalam hal ini dengan tiga pendekatan. 

Pertama alam semesta, "Demi langit dan yang datang pada malam hari. Dan tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu? (yaitu) bintang yang bersinar tajam, (QS. At-Thariq: 1-3).

Kedua, konsep manusia. "Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan. Dia diciptakan dari air (mani) yang terpancar yang keluar dari antara tulang punggung (sulbi) dan tulang dada"
Ketiga, konsep kehidupan. "Sungguh, Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup setelah mati)" (QS. At-Thariq: &8) Manusia diperintahkan membaca konsep alam semesta, manusia dan kehidupan.

Fenomena yang setiap hari mereka saksikan. Bagaimana unta diciptakan, langit ditinggikan, gunung ditegakkan dan bumi dihamparkan. Apa yang disaksikannya itu tidak diubah, namun cara pandangnya yang berubah. Sebagai tanda danjalan mengenal Rabbnya.

Membangun peradaban dimulai dari segala upaya mewujudkan insan kamil Bagaimana membangun manusia adalah inspirasi periodisasi turunnya al-Quran secara bertahap. "Berkatalah orang-Orang yang kafir: Mengapa Al Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja? Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (QS. Al- Fuqon: 32).

Ayat-ayat makiyah banyak berbicara tentang kisah umat terdahulu. Sejarah sebagai ibrah bagi orang berakal. Maksud dari ibrah sebagai jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kita. Agar kita belajar, melihat bagaimana kesudahan orang-orang  terdahulu. Apa yang kita alami hari ini sama polanya menimpa umat sebelumnya.

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyat akal. Al-Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman (QS. Yusuf: 111).
Apa pendapat kalian akan putusan yang akan ditetapkan untuk kalian" kata Rasulullah ketika akan memutuskan perkara bagi orang orang kafir di masa Fathu Makkah, "Saya akan mengatakan sebagaimana yang dikatakan Nabi Yusuf kepada saudara-saudara. Padaa hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-nmudahan Allah mengampuni, dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para
penyayang (Qs. Yusuf: 92)." 

Kisah sebagai pengingat dalam memutuskan suatu perkara. Begitupun periodisasi turunnya al-Quran terdapat konsep tarbiyah. Inspirasi kita dalam proses belajar dan memahami Islam. Utamanya dalam membangun manusia. Di periode Makkah, fokus utama Al-Quran pada konsep tauhid, penciptaan, manusia, adab, alam dunia, hari akhir, kenabian, ilmu, dien, ibadah, kebenaran, kebaikan, kebahagiaan
Adapun di periode Madinah bertumpu pada konsep ukhuwah, daulah, ummah, jihad dan penyempurna.

Mengapa peradaban kita gelap? Ketika cahaya ilmu redup karena silaunya bintang para artiS selebriti. Ketika masyarakat sampai pemimpinnya lebih suka dengan dunia hiburan, lebih mengidolakan, memuliakan daripada alim ulama.

Peradaban kita sumber cahayanya adalah ilmu. Jika iimu kita abaikan, maka yang tersebar adalah kebodohan dan yang berkuasa kesesatan. Membangun, manusia akarnya imu Kejayaan dimulai dari membangun manusia yang beradab

Sumber : Wizmagz edisi 83
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url